PEWARNAAN ALAM DENGAN KULIT KAYU MAHONI

Secara tidak sadar warna merupakan salah satu hal yang paling penting dalam dunia fesyen. Dan biasanya masing- masing orang mempunyai style warna atau selera warnanya sendiri. Bisa kita ketahui bahwa warna di barang- barang sekitar kita kebanyakan warna sintetik. Segala macam warna yang diinginkan sudah tersedia dengan warna sintetik ini. Berbeda dengan warna sintetik warna alam cenderung lebih terbatas hasilnya. Tetapi dengan warna alam biasanya limbah yang dihasilkan tidak begitu membahayaan bagi lingkungan sekitar, dibanding warna sintetis yang cenderung membuat lingkungan kita tercemar.

Semakin berkembang pesatnya zaman, orang- orang sudah ada beberapa yang sadar akan bahayanya zat warna sintetis. Baik itu bahaya dalam jangka panjang maupun pendek. Untuk itu di era sekarang, orang- orang sudah menyerukan untuk sedikit demi sedikit untuk kembali lagi menggunakan zat warna alam sebagai pewarna terutama dalam fesyen.
Tetapi dengan keterbatasan sumber daya dan belum semua orang sadar akan bahaya zat warna alam sintetis bagi lingkungan , itulah yang menyebabkan penggunaan kembali zat warna alam yang sedikit sulit.

  1.       Di Indonesia sendiri, penggunaan zat warna alam oleh orang- orang terutama dalam mewarnai kain,  pewarnaan batik,dan yang lainnya sudah lumayan banyak yang mengembangkan dan ada juga yang masih mempertahankan penggunaannya. Sumber pewarna alam biasanya dari tanaman, pohon bungan dan yang lainnya yang berkaitan dengan alam. Baik itu kulit pohonnya, bunganya, buahnya batangnya ataupun daunnya.Seperti yang saya lakukan percobaan pembuatan sample untuk tugas akhir, saya menggunakan atau memanfaatkan kulit kayu mahoni sebagai pewarna alam. Stelah melalui beberapa proses barulah Saya bisa mendapatkan hasil celupan yang sebenarnya seperti kejutan buat Saya. ( hahaha). Karena ternyata setelah melaui proses fiksasi warna yang dihasilkan setelah dan sebelum fiksasi itu sangat berbeda. Berikut tahapan prosesnya :

    Proses Ekstraksi Zat Warna Alam

  2. Proses Mordanting                        : Dimaksudkan untuk meningkatkan daya tarik zat warna alam terhadap bahan tekstil dan untuk meratakan hasil pewarnaan.
  3. Proses pewarnaan ( Pencelupan)
  4. Proses Fixsasi                              : Agar warna memiliki ketahanan luntur yang baik, Ada 3 jenis larutan fixer yang digunakan yaitu tunjung, tawas atau kapur tohor.

 

Berikut sampple hasil pwarnaan menggunakan zat warna ala menggunakan kulit kayu mahoni dengan 3 jenis larutan fixer :

Jpeg

Hasil Sample Kulit Kayu Mahoni

Sekian… See U Guys 🙂

spacer

Leave a reply